KLIKTREND.com – Paus Fransiskus, untuk pertama kalinya mengakui adanya skandal yang melibatkan para pastor yang menjadikan suster sebagai budak nafsu seksual.

Hal tersebut diungkapkannya kepada wartawan dalam perjalanan pulang dari Uni Emirat Arab. Menurut Paus, Gereja Katolik akan berusaha keras mengatasi masalah tersebut.

“Haruskah kita melakukan sesuatu? Ya. Apakah ada niat” Ya. Tetapi itu adalah jalan yang sudah kita mulai,” ungkapnya seperti dikuti ABC News, Rabu (06/02).

Baca jugaPaus Fransiskus dan Sheikh Ahmed al-Tayeb Deklarasikan Perdamaian

Paus mengungkapkan bahwa paus sebelumnya, Benediktus XVI, sudah pernah mengambil tindakan terhadap sebuah ordo Katolik di Prancis.

Pastor di ordo tersebut menjadikan para suster sebagai budak seks dan yang melakukannya adalah pendiri ordo tersebut dan beberapa pastor lain.

“Ini bukan berarti bahwa semua orang melakukannya, namun ada pastor dan uskup yang melakukannya,” jelas Paus.

[wonderplugin_video videotype=”mp4″ mp4=”https://abcmedia.akamaized.net/news/video/201902/NOLs_PopeWomen_0602_1000k.mp4″ webm=”https://abcmedia.akamaized.net/news/video/201902/NOLs_PopeWomen_0602_1000k.mp4″ poster=”https://www.kliktrend.com/wp-content/uploads/2019/02/Paus-Fransiskus-Saat-Konferensi-Pers.jpg” videowidth=600 videoheight=400 keepaspectratio=1 videocss=”position:relative;display:block;background-color:#000;overflow:hidden;max-width:100%;margin:0 auto;” playbutton=”https://www.kliktrend.com/wp-content/plugins/wonderplugin-video-embed/engine/playvideo-64-64-0.png”]

Kasus Pelecehan Terhadap Para Suster Mencuat

Masalah ini mencuat ke permukaan setelah Gereja Katolik secara terbuka mengakui adanya pelecehan seksual terhadap kelompok minoritas termasuk anak-anak.

Selain itu, adanya gerakan #MeToo yang mengkampanyekan bahwa orang dewasa pun bisa menjadi korban pelecehan bila ada ketidakseimbangan kuasa dalam sebuah hubungan.

Baca jugaTulisan di Sol Sepatu Mirip Lafaz Allah, Nike Tuai Protes

Dalam beberapa tahun terakhir, media internasional telah melaporkan skandal pastor yang melakukan pelecehan dan penganiayaan seksual di India, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan. Hal ini diungkapkan sebagai bukti bahwa masalah ini tidak terjadi di daerah tertentu saja.

Bulan November lalu, the International Union of Superiors General, secara terbuka mengecam ‘budaya diam dan rahasia’ yang membuat para suster tidak mau berbicara. Mereka mendesak para suster untuk melaporkan pelanggaran seksual kepada pimpinan mereka atau ke polisi.

Sementara itu, minggu lalu, sebuah majalah perempuan bagian dari harian di Vatikan, L’Osservatore Romano mengidentifikasi kultur di kalangan pastor sebagai sebab utama.

Majalah bernama Women Church World, melaporkan skandal yang melibatkan suster yang terpaksa harus menggugurkan kandungan karena hubungan seksual dengan pastor.*

(ABC News)