KLIKTREND.com – Budawayan Ridwan Saidi menilai, penangkapan jelang Pilpres 2019 atas sejumlah pengkritik pemerintah merupakan bentuk kepanikan dan ketakutan capres petahana Joko Widodo atau Jokowi. Hal itu disampaikannya dalam diskusi bertajuk ‘Jelang Pilpres Jokowi Blunder dan Panik?’ di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

“Yang kayak begini sebenarnya ini adalah psikologi orang yang sudah mengerti akan kalah. Apalagi Amien Rais, Pak Prabowo, diancam bakal ada penangkapan-penangkapan. Nah, itu dia takut,” kata Ridwan.

Pada kesempatan yang sama, Ridwan juga bercerita saat dirinya dulu mengikuti pemilu di zaman orde baru bersama PPP. Menurutnya, kala itu, Partai Golkar sebagai lawan politiknya tidak sampai melakukan hal-hal yang dilakukan rezim sekarang.

[wonderplugin_video iframe=”https://www.youtube.com/watch?v=zdm0geDK_Us” videowidth=600 videoheight=400 keepaspectratio=1 videocss=”position:relative;display:block;background-color:#000;overflow:hidden;max-width:100%;margin:0 auto;” playbutton=”https://www.kliktrend.com/wp-content/plugins/wonderplugin-video-embed/engine/playvideo-64-64-0.png”]

Baca juga: Lanjutan Kasus Video Siswa Merokok yang Tantang Gurunya

“Golkar dulu tidak panik, karena dia tidak mungkin membendung saya di DKI dia biarkan kita menang enggak ada lagi yang bisa dia lakukan. Aceh menang, Kalimantan Selatan menang, baru dia jagain yang lain-lain,” ungkapnya.

“Nah ini dia mau jaga mana mau ke mana kita pergi di situ ada Prabowo-Sandi kok. Susah. Jadi dia itu menghadapi Joga bonito zaman Romario Faria (pemain bola Brazil).

Dia mau jaga satu ada Bebeto, dia mau jaga Bebeto ada Dunga, jadi susah. Mereka ini susah. Jadi satu permainan cantik Joga bonito zaman itu. Nah ini sekarang begitu yang dia alami,” ungkapnya.

Baca jugaSBY: Ani Yudhoyono Sakit Kanker Darah

Ridwan berharap kepada pemerintahan Jokowi berhenti melakukan penangkapan kepada pihak yang melakukan kritik. Ridwan ingin Pilpres disikapi santai layaknya pertandingan yang wajar.

“Kalau pertandingan itu ada yang kalah ada menang ya kan. Enggak usah apa namanya berimbas seperti ini nanti ada penilaian Komnas HAM internasional kok begini-begini amat sih pemilu di Indonesia lawannya enggak boleh menang jangan begitu lah,” ungkap dia.*

(Merdeka)