KLIKTREND.com – Prediksi Fadli Zon, salah satu Anggota Dewan Pengarah Pemenangan Nasional (BPN), Prabowo-Sandiaga akan menang di kisaran 63 persen.

Hal ini diungkapkan Fadli Zon merujuk pada hasil survei internal mereka yang menunjukkan Prabowo-Sandiaga telah melewati pasangan calon nomor 1 Jokowi-Ma’ruf.

“Kalau menurut saya sih prediksi kami, insya Allah kami menang 63 persen,” kata Fadli, Selasa (12/2/2019).

[wonderplugin_video iframe=”https://youtu.be/2GFAEQbZwDs” videowidth=600 videoheight=400 keepaspectratio=1 videocss=”position:relative;display:block;background-color:#000;overflow:hidden;max-width:100%;margin:0 auto;” playbutton=”https://www.kliktrend.com/wp-content/plugins/wonderplugin-video-embed/engine/playvideo-64-64-0.png”]

Baca juga: Tulisan di Sol Sepatu Mirip Lafaz Allah, Nike Tuai Protes

Fadli mengatakan bahwa, Jokowi melakukan pencitraan demi mendongkrak elektabilitasnya yang sudah mangkrak.

“Artinya, tidak ada capaian yang membuat rakyat ini menambah atau mengokohkan pilihannya karena janjinya enggak ditepati,” kata Fadli.

“Seorang petahana itu biasanya bicara bahwa ini lho yang sudah saya lakukan, ini keberhasilan saya, tetapi klaim itu terlalu mudah dipatahkan, akhirnya menjadi gimmick-gimmick, pencitraan,” lanjutnya.

Salah satu pencitraan yang disindir Fadli adalah ketika Presiden Jokowi dan keluarganya jalan-jalan di Kebun Raya Bogor, pada Desember 2018 silam.

Fadli pun menyinggung bahwa pencitraan tersebut tertuang dalam teori bernama photo operation. Menurutnya, teori tersebut muncul saat Pilpres di Amerika Serikat.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menjelaskan, jika pencitraan dilakukan sesuai teori, maka akan ada dampak atau citra yang terbentuk.

Baca juga: Cina Berlakukan Seragam Pintar Untuk Cegah Siswa Bolos

Kendati demikian, Fadli menilai, pencitraan keluarga harmonis Jokowi justru terkesan brutal karena perancangnya tidak memahami teori tersebut.

“Di pilpres Amerika itu memang ada teorinya, namanya photo ops, memang dia sengaja berikan pencitraan untuk dapatkan impact tertentu bahwa kita ini memang keluarga harmonis. Itu dibikin rapih, ini (Jokowi) dibikin pencitraan brutal karena tidak mengerti teorinya,” terang Fadli.*

(Kompas)