KLIKTREND.com – Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni, menyayangkan klaim sepihak Prabowo memenangi Pilpres 2019. Padahal, quick count atau hitung cepat sejumlah lembaga survei mengunggulkan Joko Widodo (Jokowi).

Sekjen PSI tersebut menilai, sikap Prabowo yang tidak ingin mengakui kekalahan itulah yang memanaskan suasana usai pencoblosan. Karenanya, ia menyindir agar Prabowo belajar ke Grace Natalie, Ketua Umum PSI, yang telah berlapang dada menerima kegagalan PSI lolos ke Senayan.

“Siap menang dan siap kalah adalah tradisi penting demokrasi yang gagal ditunjukan Prabowo. Mestinya dia belajar ke Grace Natalie,” ungkap Raja Juli dalam rilisnya, Jumat (19/4/2019).

[wonderplugin_video iframe=”https://www.youtube.com/watch?v=YohRUdPhvww” videowidth=600 videoheight=400 keepaspectratio=1 videocss=”position:relative;display:block;background-color:#000;overflow:hidden;max-width:100%;margin:0 auto;” playbutton=”https://www.kliktrend.com/wp-content/plugins/wonderplugin-video-embed/engine/playvideo-64-64-0.png”]

TrendingKetum PSI, Grace Natalie: Setelah Kami Kalah, Tidak ada penyesalan

Prabowo Mestinya Meneladani Grace Natalie

Raja Juli menilai, keinginan rakyat untuk menjadikan 17 April 2019 sebagai puncak partisipasi politik, serta mengakhiri disparitas politik yang tajam, justru kandas di tengah jalan.

“Karena Pak Prabowo tidak menolak menyatakan kekalahannya, meski semua lembaga survei yang kredibel melalui quick count menunjukan kekalahan Prabowo,” terangnya.

Hasil hitung cepat atau quick count, menurut Raja Juli, adalah metode saintifik-akademik yang sudah mapan, dan telah diterapkan di berbagai belahan dunia. “Yang dapat memberikan indikasi akurat pemenang Pemilu,” tambahnya.

TrendingSoal Spekulasi Sandiaga Uno Kembali Jadi Wagub DKI Jakarta

“Sayang, Pak Prabowo yang sering mengaku sebagai patriot dan negarawan, justru memperpanjang keterbelahan politik dengan menolak hasil quick count. Bahkan, mengumumkan dirinya sebagai pemenang pemilu,” lanjutnya.

Karena itulah, ia menyarankan agar Prabowo Subianto dapat meneladani sikap Grace Natalie, yang sanggup berlapang dada meski PSI dinyatakan tidak lolos ambang batas untuk bisa masuk ke Senayan.

“Pak Prabowo mestinya meneladani Grace Natalie, ketum PSI, yang dengan teguh hati mengakui kegagalan PSI masuk Senayan, karena hanya memperoleh 2% (sekitar 3 juta pemilih) suara nasional dari 4% yang disyaratkan UU,” tegas Raja Juli.*

(Detik)