KLIKTREND.com – Acara Munajat 212 yang berlangsung di Tugu Monas pada Kamis, 21 Februari 2019 menuai kontroversi di kalangan publik. Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin memberikan komentar terkait acara tersebut. Menurut TKN, acara Munajat 212 sarat politik dan melenceng dari tujuan yang sesungguhnya.

“Acara doa bersama tentu sangat positif, walaupun nuansa politisnya sangat tak bisa dihindarkan karena memakai embel-embel angka (212) itu. Namun, jika doa bersama itu ternyata dipergunakan sebagai momentum untuk menyampaikan pesan-pesan politik, itu berarti sudah keluar dari nawaitunya,” kata juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, Jumat (22/2/2019).

Ace yang adalah TKN Jokowi-Ma’ruf mengatakan bahwa Munajat 212 sejatinya acara doa bersama utuk kebaikan bersama seluruh bangsa. Namun acara ini mengalami pengaburan makna karena dihadiri para tokoh partai politik yang berafiliasi dengan BPN Prabowo-Sandiaga.

[wonderplugin_video iframe=”https://www.youtube.com/watch?v=YMpHUiq1-Fg” videowidth=600 videoheight=400 keepaspectratio=1 videocss=”position:relative;display:block;background-color:#000;overflow:hidden;max-width:100%;margin:0 auto;” playbutton=”https://www.kliktrend.com/wp-content/plugins/wonderplugin-video-embed/engine/playvideo-64-64-0.png”]

Baca jug: Mantan Istri Punya Pacar Baru, Pria Ini Tendang Anak

Politisasi Agama

Menurut Ace, salam dua jari Waketum Gerindra Fadli Zon dan orasi Ketum PAN Zulkifli Hasan mengarah ke kampanye. Selain hal tersebut, Ace juga menyinggung Mars Munajat 212 yang berbunyi ‘Ijtimak Ulama pegangan kami memilih Presiden RI’.

“Hal itu dibuktikan dengan salam dua jarinya Fadli Zon, orasinya Pak Zulkifli Hasan yang tendensius kampanye, Ijtimak Ulama untuk pemilihan presiden, serta hadirnya tokoh-tokoh yang mendukung capres 02,” ujar politikus Golkar itu.

Baca juga: Rossa Ingin memperkenalkan Indonesia di Pentas Dunia

Karena itu, Ace juga menduga ada politisasi agama dalam kegiatan Munajat 212. Ace mengingatkan kampanye harus diselenggarakan pada tempatnya.

“Dengan melihat nuansa acara itu patut diduga acara itu merupakan bagian dari politisasi agama dan kampanye politik. Apalagi penyelenggara acara tersebut merupakan tokoh-tokoh yang selama ini dikenal pendukung capres tertentu,” tuturnya.

“Bagi kami, kampanye politik itu itu boleh-boleh saja. Namun harus pada tempatnya. Kita semua sudah tahu peraturannya. Masyarakat juga sudah cerdas dalam menilai acara-acara seperti itu mengandung nuansa politik,” imbuh Ace.

Baca juga: Dibully Caleg Modal Tampang, Ini Komentar Kirana Larasati

Ace pun meminta Bawaslu segera bertindak. Menurut dia, Bawaslu tak perlu menunggu laporan. Sebab, Ace menilai kesan politik dalam acara itu sangat nyata.

“Saya kira Bawaslu harus bertindak sesuai dengan kewenangannya. Tak harus menunggu laporan, karena Bawaslu DKI sendiri memantau langsung acara itu. Terlalu kentara bahwa acara itu berbau politik dengan yel-yel seperti kampanye,” tegasnya.

Munajat 212 digelar pada Kamis (21/2) malam di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh parpol yang berafiliasi dengan BPN Prabowo-Sandiaga hadir. Di antaranya Ketum PAN Zulkifli Hasan, Waketum Gerindra Fadli Zon, dan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid.

Baca juga: Sering Bikin Onar, Turis Inggris Ini Akan Dipulangkan

Munajat 212 diselenggarakan MUI DKI

Acara di Monas ini diselenggarakan oleh MUI DKI Jakarta. Dalam pernyataannya, MUI DKI menyatakan acara dengan tajuk ‘Senandung Selawat dan Zikir’ ini digelar pada tanggal 21 Februari. Acara ini bertujuan untuk mencegah ada pihak yang memanfaatkan momentum tertentu berkaitan dengan tanggal acara. Sebelumnya, MUI DKI juga menyatakan acara ini tidak berkaitan dengan kepentingan politik tertentu.

Sementara itu, Fadli Zon menilai orasi politik yang disampaikan di Munajat 212 masih wajar. Sebab, menurutnya, tak ada ajakan memilih dalam orasi politik tersebut.

“Saya kira, kalau saya lihat tidak ada ya yang menyangkut masalah ajakan atau apa yang terkait dengan itu. Semua, saya rasa masih dalam koridor ya. Tentu harus ada bumbu-bumbu,” ujar Fadli di Monas, Jakarta Pusat.*

Detik )